Kamis, 03 Maret 2016

Potensi Wisata Budaya di Mamuju Sulawesi Barat

Potensi Wisata Budaya di Mamuju Sulawesi Barat

Wisata budaya yang terdapat di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat antara lain :
1. Rumah Adat Terletak di Kelurahan Rimuku Kecamatan Mamuju
2. Kuburan Tua Tosalama’ Terletak di Kecamatan Mamuju
3. Kuburan Tua Lasalaga Terletak di Kecamatan Mamuju
4. Kuburan Tua Tonileo Terletak di Kecamatan Mamuju
5. Kuburan Puatta Karama Terletak di Kecamatan Mamuju
6. Kuburan Tua Langga Turu’ Terletak di Kecamatan Mamuju
7. Benteng Kassa Terletak di Kecamatan Kalukku
8. Kuburan Tua Pasa’bu Terletak di Kecamatan Tappalang
9. Kuburan Tua Raja Dungkait Terletak di Kecamatan Tappalang Barat
10. Situs Minanga Sipakko Terletak di Kecamatan Kalumpang
11. Kuburan Prasejarah Terletak di Kecamatan Kalumpang
12. Penyimpanan Mayat Terletak di Kecamatan Bonehau
13. Pakaian Adat Terletak di Kecamatan Bonehau
14. Tarian Sayo Terletak di Kecamatan Bonehau
15. Benteng Kayu Mangiwang Terletak di Kecamatan Topoyo
16. Rumah Adat Topoyo Terletak di Kecamatan Topoyo
17. Benteng Towani Terletak di Kecamatan Karossa
18. Kuburan Raja Langga Terletak di Kecamatan Karossa

Lagu Daerah Mamuju “Oh Pulo Karampuang”


Lagu Daerah Mamuju “Oh Pulo Karampuang”
Lirik Pulo Karampuang http://
ragamsulawesibarat.blogspot.co.id
oleh Nurlyati

Oh pulo karampuang
Di olona mamuju
Merio-rio nikita di wattu
Simbar karampuang

Oh pulo karampuang
Di olona mamuju
Merio-rio nikita di wattu
Simbar karampuang

Karaomo lampana tonisenga’ di ate
Ateku’ rapang nikojo
Bennu bulo pammoso
Pallarina utara
Situru-turu’ salatang
Pengkata nda’ko di ia
Di tomarao

Oh pulo karampuang
Di olona mamuju
Merio-rio nikita di wattu
Simbar karampuang

Oh pulo karampuang
Di olona mamuju
Merio-rio nikita di wattu
Simbar karampuang

Karaomo lampana tonisenga’ di ate
Ateku’ rapang nikojo
Bennu bulo pammoso
Pallarina utara
Situru-turu’ salatang
Pengkata nda’ko di ia
Di tomarao

Kebudayaan Sulawesi Barat

Kebudayaan Sulawesi Barat

Selanjutnya mari kita lihat beberapa kebudayaan di Provinsi baru di Indonesia yang ke-33, yaitu Provinsi Sulawesi Barat. Provinsi ini merupakan provinsi baru di Indonesia yang terbentuk dari pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan, dan kini telah menjadi Provinsi ke-33 yang diresmikan sejak 5 Oktober 2004 berdasarkan UU No. 26 Tahun 2004. Ibukota provinsi Sulawesi Barat ini adalah Mamuju. Luas wilayahnya sekitar 16,796.19 km². Secara geografis, provinsi ini terletak di posisi silang dari Segitiga emas Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah, serta langsung menghadap rute berlayar nasional dan internasional selat Makassar.

Saat ini Sulawesi Barat terkenal dengan kakaonya, kopi (robusta dan arabika), cengkeh, dan kelapa. Emas, batu bara, dan minyak telah menjadikan provinsi makmur. Lebih lengkapnya kebudayaan yang ada di Provinsi Sulawesi Barat ini akan kami sajikan dibawah ini.

1. Rumah adat
Rumah adat Mandar, yakni rumah panggung yang memiliki bentuk yang hampir sama dengan rumah adat suku Bugis dan Makassar. Perbedaanya pada bagian teras (lego) lebih besar dan atapnya seperti ember miring ke depan. Bentuk rumah panggung yang berdiri diatas tiang-tiangnya dimaksudkan untuk menghindari banjir dan binatang buas. Dan apabila semakin tinggi tingkat kolong rumah menandakan semakin tinggi pula tingkat status sosial pemiliknya.  Atap rumah umumnya terbuat dari sirap kayu besi, bambu, daun nipah, rumbia, ijuk atau ilalang. Tangga terbuat dari kayu (odeneng) atau bambu (sapana) dengan jumlah anak tangganya ganjil. Tingkat dinding berbentuk segitiga yang bersusun sebagai atap juga menunjukan kedudukan sosial pemilik rumah.
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id

2. Pakaian Tradisional
Di Sulawesi Barat mempunyai keragaman baju tradisionalnya. Pakaian tradisional Sulawesi Barat biasanya dikenakan dalam pertunjukan tari, acara pernikahan dll yang memiliki keragaman dalam busananya.
Pakaian adat pada pria mengenakan jas yang tertutup dan berlengan panjang, dipadukan celana panjang sebagai pakaian bawahnya. Terdapat kain sarung yang dililitkan pada pinggangnya sampai kelutut. Sedangkan pakaian adat pada wanita Sulawesi Barat mengenakan baju Bodo dengan dihiasi kalung, gelang serta giwang. pada bagian kepala dikenakan sanggul dan beberapa hiasannya. Pakaian bawah dikenakan sarung yang dikenakan seperti rok.

pakaian adat Sulawesi Barat
3. Tari Daerah
- Tari Bamba Manurung, ditujukan sewaktu acara pesta Adat Mamuju yang dihadiri oleh para penghulu adat beserta para tokok adat. Pakaian tari ini disebut baju Badu, dan di hiasi oleh bunga melati beserta kipas sebagai perlengkapan tarinya.

- Tari Bulu Londong, ditujukan pada acara Rambutuka sebagai rasa syukur penduduknya.Pakaian tari ini mengenakan baju adat Mamasa yang berbahan bulu burung.  Perlengkapan tari yang dipakai adalah terompet, pedang atau tombak, sengo, kepala manusia dll.

- Tari patuddu ditujukan dalam acara untuk menyambut para tetamu dari luar maupun dalam negeri. Tarian ini merupakan tarian suku Mandar yang tinggal di Sulawesi Barat.

Tari Patuddu

4. Senjata Tradisional: Badik

Badik atau badek bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar.
Badik
5. Suku-suku Sulawesi Barat: ada terdiri dari Makassar (1,59%),Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Suku Mandar (49,15%), dan suku lainnya (19,15%).

6. Lagu Daerah: Bulu Londong, Malluya, Io-Io, Ma'pararuk.

7. Bahasa Daerah: Bahasa Mandar, Bahasa Bugis, Bahasa Toraja, Bahasa Makasar

8. Alat Musik Tradisional: Kecapi, cara memainkannya dengan  dipetik pada bagian senarnya.

http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id/

Rabu, 02 Maret 2016

Lipa Sa'be - Sarung Sutra Khas Mandar

Lipa Sa'be - Sarung Sutra Khas Mandar


Setiap pakaian adat suku Mandar tidak lepas dari lipa saqbe. Disamping adalah foto contoh pakaian adat suku Mandar dengan menggunakan sarung khas mandar yaitu lipa saqbe (nama lipa saqbe yang digunakan adalah Sure' Padzadza).
Lipa Saqbe Mandar (Sarung Sutra Mandar) sepintas memiliki persamaan dengan kain sutra daerah lain, tapi di setiap jenis dan nama Lipa Saqbe Mandar memiliki ciri khas khusus yakni dari segi corak (sure' ataupun bunga) dan cara pembuatannya, yang membuatnya terkenal ke daerah sekitarnya (bugis dan makassar).
Posisi coraknya itu tidak sembarangan, karena penciptaan motif (sure' ataupun bunga) punya peruntukan masing-masing berdasarkan standar ekonomi, sosial budaya, agama, dan juga strata sosial seseorang.
Saat ini terdapat 2 jenis Lipa Sa'be bila ditinjau dari motifnya yaitu Sure dan Bunga. Perbedaannya, Sure' yaitu lipa sa'be yang merupakan motif asli dari sarung sutra mandar, ciri-cirinya tidak memiliki hiasan/bunga yang membuatnya mencolok. Sedangkan Bunga yaitu lipa sa'be yang memiliki motif dan hiasan berupa bunga ataupun lainnya, yang merupakan turunan dari sure agar lipa sa'be tampak lebih cantik.
Lipa Sa'be bermotif Sure' :

Lipa Sa'be bermotif Bunga ;

Contoh-contoh Lipa Sa'be Mandar :
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id


Berikut akan dibahas tentang cara pembuatan Lipaq Saqbe Mandar, mulai dari pemilihan benang, bahan dasar pewarnaan (tradisional dan kimiawi), proses mewarnai (maccingga), manggalenrong, mappamaling, sumau', mappatama, dan manette.

1. Pemilihan Benang
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.idBenang (bannang) sutra merupakan bahan dasar yang dipakai. Sutra memiliki kilau yang tak tertandingi oleh serat alam lainnya, serat ini berasal dari air liur ulat sutera. Ulat sutera ini akan berubah bentuk menjadi kepompong, dimana kepompong ulat sutera inilah yang merupakan lilitan air liur akan mengeras dan bila diurai akan menjadi serat panjang yang halus, di Mandar dahulu dikenal maqunnus dan mattiqor.
Ma'unnus adalah penarikan benang dari kepompong dengan cara sangat manual. Dari sekian benang yang ditarik lalu dihaluskan dan digulung dalam bentuk pintalan-pintalan benang, proses ini dinamakan Matti'or yaitu proses pemintalan agar siap digunakan/ditenun.
Ma'unnus dan matti'or di Mandar sudah tidak ditemukan lagi. Hal ini disebabkan, selain karena jarang ditemukan kepompong ulat sutra, juga karena para penenung langsung membeli benang sutra yang dijual di pasaran.
Benang sutra memiliki warna dasar putih, jadi untuk menghasilkan kain sutra yang bercorak diperlukan proses pewarnaan sesuai corak yang akan dibuat.

2. Proses Pewarnaan (Maccingga)
Proses pewarnaan ini ada dua cara, yaitu dengan cara tradisonal (memakai pewarna alam), dan dengan cara pewarna kimia.
- Cara TradisionalYaitu pewarnaan yang menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar. Pewarnaan dengan cara tradisional ini sudah jarang dijumpai di Mandar, karena prosesnya juga agak ribet dan mengulur waktu.
Berikut ada 4 contoh pewarna dengan bahan dasar dari alam sekitar :
Daun Nila, akan menghasilkan warna biru dan hitam. Adapun proses pembuatannya, yaitu daun nila yang sudah dikumpulkan dijemur sampai layu, kemudian dimasukkan ke dalam tempayang berisi air dan diendapkan selama 2 hari. Selanjutnya, daun nila dicampur dengan kapur dan dimasak, setelah mengeluarkan busa air dari daun nila disaring dan didinginkan. Air yang sudah disaring siapkan digunakan sebagai pewarna benang.
Ka'lanjo (bakal kelapa yang besarnya sama dengan kepalan tangan anak-anak). Ka'lanjo ini akan menghasilkan warna coklat muda. Proses pembuatannya, setelah kalanjo dikumpul sekitar 15 biji, ka'lanjo tersebut dipotong-potong lalu ditumbuk sampai agak halus, kemudian direndam dengan air sekitar 5 liter dan didiamkan selama 1 hari 1 malam. Setelah itu, air yang sudah disaring dari rendaman ka'lanjo ini siapkan digunakan sebagai pewarna benang.
Bakko (Kulit bakau), akan menghasilkan warna merah muda, dan untuk merah tua sampai coklat, bakko direndam atau dimasak lebih lama. Cara menyiapkannya yaitu terlebih dahulu mengupas kulit bakau dari pohonnya sampai sesuai kebutuhan kemudian dimasak dalam panci, setelah menghasilkan warna sesuai dengan keinginan, panci diangkat dan didinginkan agar mudah disaring dan diambil airnya untuk digunakan sebagai pewarna benang.
Gamalo, adalah sejenis pohon kayu, dimana cara proses persiapannya sama dengan bakko. Warna yang dihasilkan adalah coklat tua.
- Cara Pewarnaan dengan bahan kimia
Cara ini paling banyak dan umum dilakukan oleh penenun Mandar saat ini, cingga (pewarna) dari bahan kimiapun banyak dijumpai di pasaran.
PROSES MACCINGGA
  1. benang sutra di masak menggunakan air pewarna yang akan dipakai dalam keadaan mendidih.
  2. aduk sampai benang bersatu dengan warna.
  3. setelah itu biarkan benang sutra dan air pewarna mendingin.
  4. setelah dingin, benang sutra diperah dan dibilas kemudian dijemur sampai kering, yang perlu diperhatikan pada saat menjemur adalah benang selalu ditarik-tarik atau disiangi agar benang dalam keadaan kembur atau terpisah-pisah antara lembaran yang satu dengan lainnya.
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.idhttp://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id
Selain cingga yang sudah banyak dijumpai dipasaran saat ini, juga sudah ada benang sutra yang telah berwarna saat dibeli, ini sangat membantu pekerjaan penenun sutra.

3. Manggalenrong
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.idProses selanjutnya, adalah manggalenrong yaitu benang yang sudah diwarnai (dicingga') dililitkan pada sebuah potongan bambu atau sebuah kaleng yang disebut galenrong, dengan menggunakan alat bernama roeng dan panggalenrongan.
Benang yang digalenrong tersebut untuk persiapan proses selanjutnya yaitu proses pembuatan benang lungsi. Satu galenrong untuk satu warna benang, jadi banyaknya benang yang digalenrong sesuai dengan kebutuhan untuk benang lungsi.

4. Mappamaling
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.idSelain manggalenrong, seorang penenun juga mempersiapkan benang yang dipakai untuk benang pakan.
Proses ini dinamakan mappamaling yang berarti memindahkan. Benang untuk pakan ini dililitkan di ujung pamalingan, yang terbuat dari bambu sebesar lidi.
Proses ini menggunakan alat yang bernama roeng dan unusan.


5. Sumau'
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.idProses sumau bertujuan untuk mengatur benang lungsi, dimana membutukan tempat yang agak luas (panjang sekitar 6 meter) untuk membuat sautan.
Sautan biasanya dibuat di kolom rumah, yang sangat memungkinkan karena rumah Mandar adalah rumah panggung. Panggung sautan dibuat di antara tiang-tiang kolom rumah yang terbuat dari gamo (pelepah daun rumbia).
 http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id
Alat-alat yang digunakan pada proses ini, yaitu suru', aweran, ale', susu'ale, pallumu-lumu, pattanra', galenrong.
Lebar lungsi yang dibuat biasanya 50 cm, 60 cm atau 75 cm tergantung penenun ukuran mana yang akan dibuat, jadi ukuran tinggi sarung mandar yang sudah selesai setelah disambung menjadi 100 cm, 120 cm atau 150 cm.
Pada waktu menyusun benang lungsi ini ke dalam sautan, terlebih dahulu perlu diketahui susunan pengaturan benang, sebab dalam menyusun benang lungsi ini punya cara khusus. Pelaksanaan sumau kira-kira seperti berikut :
  • mempersiapkan galenrong yang akan dipakai (satu galenrong untuk satu warna benang).
  • mengambil ujung benang dari galenrong ditarik ke atas sautan masuk ke lubang suru', kemudian ke lubang ale' kemudian ke lubang suru' lagi, kemudian diantar ke ujung sautan diputar satu kali, kemudian di bawah lagi satu kali.
  • dari ujung benang selalu diantar secara bolak-balik terus menerus sampai tersusun kombinasi warna-warna yang diinginkan.
Lama sumau' tergantung kepada penenun, ada yang 1 hari saja tapi rata-rata penenun 2 hari baru selesai. Setelah selesai, benang lungsi yang selesai tersusun dilepas dari sautan, dengan cara menarik aweran-nya saja.

6. Mappatama
Mappatama, dalam bahasa Mandar berarti memasukkan, dalam hal ini adalah benang lungsi yang sudah dilepas dari sautan dimasukkan ke tandayang untuk ditenung.
Prosesnya yaitu setelah dilepas dari sautan terlebih dahulu benang lungsi dirapikan, diperiksa dan diteliti bila ada yang putus segera disambung, kemudian dipasangi patakko.
Patakko tersebut dipasang papan pamalu' yang mana pada pamalu' tersebut terdapat baut penahan patakko. Selanjutnya benang lungsi dililitkan/digulungkan pada papan (pamalu'). Papan pamalu' tersebutlah yang dimasukkan ke pattandayangan. Langkah terakhir adalah memasukkan ujung pakan yang lain patakko yang akan dimasukkan ke dalam passa dengan ketentuan biring keccu (pinggir kecil benang lungsi) sebelah kanan dan pandapuan sebelah kiri.
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id/http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.idhttp://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id

7. Manette
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.idManette berarti menenun. Proses menenun kain khas tradisional Mandar ini memakai beberapa peralatan yang disebut parewa tandayang (peralatan tenun). Parewa tandayang merupakan warisan leluhur masyarakat mandar, sehingga diakui bahwa merupakan hasil kreasi nenek moyang masyarakat mandar yang diwariskan secara turun temurun. Kemampuan menciptakan parewa tandayang juga dilakukan secara turun temurun tanpa ditransfer secara formal oleh pendahulunya.

Adapun peralatan yang dimaksud dalam parewa tandayang adalah :
a. patakko
b. palapa pattali-tali
c. pamalu'
d. petandayangan
e. palapa
f. pallumu-lumu
g. susu' ale'
h. ale'
i. pambitting ale'
j. aweran
k. passamba'
l. panette' (balida)
m. suru'
n. sa'ar
o. passa
p. palapa pappamase'
q. lobang tempat mengaitkan pappamase'
r. tautan
s. gulang pondo'
t. passollorang
u. pappamalingan
v. pa'ang
w. tora'
x. panne
y. sissir
z. passue'
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id

PUSTAKA :Idham. 2009. Lipa Sa'be Mandar. Surakarta:Zada Haniva.

Nama-nama Kerajaan di SULBAR

Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binang;
  1. Kerajaan Balanipa
  2. Kerajaan Sendana
  3. Kerajaan Banggae
  4. Kerajaan Pamboang
  5. Kerajaan Tapalang
  6. Kerajaan Mamuju
  7. Kerajaan Benuangragamsulawesibarat.blogspot.co.id

Mencoba Masak Jepa, Makanan Khas Majenene

Mencoba Masak Jepa, Makanan Khas Majenene

ragamsulawesibarat.blogspot.co.idragamsulawesibarat.blogspot.co.idKOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Seorang turis membut jepa di Desa Bonde, Majene, Sulawesi Barat.
- Seorang ibu sibuk dengan wajan dan tungku berbahan bakar dari kayu. Ia masukan singkong dan tak lama kemudian menjadi lembaran-lembaran serupa roti atau panekuk.

Sang ibu tengah memasak jepa, masakan tradisional suku Mandar. Di Desa Bonde, Kecamatan Pamboang Majene, Sulawesi Barat. Jepa merupakan makanan pokok di Majene, layaknya nasi.

Bentuknya berupa lingkaran dalam lembaran tipis. Berwarna putih kecokelatan dengan aroma singkong bakar dan bertekstur seperi roti. Enaknya dimakan selagi hangat.

Nah, di Desa Bonde, tepat di area masuk ke desa, turis bisa melihat langsung proses pembuatan jepa. Tak sekedar melihat, pengunjung bisa saja ikut membuat jepa. Tentu izinlah terlebih dahulu.

Singkong yang telah dikupas kulitnya, diparut. Hasil parutan singkong diperas hingga sari-sarinya keluar. Ampas singkong kemudian diayak, setelah itu siap dimasak.
ragamsulawesibarat.blogspot.co.idKOMPAS.comragamsulawesibarat.blogspot.co.idNi Luh Made Pertiwi F. Jepa, makanan dari singkong khas suku Mandar yang mendiami kawasan Sulawesi Barat.
Sebelum dimasak, wajan khusus dari tanah liat bernama panjepangan dipanaskan. Wajan tersebut lebih menyerupai piring dan terdiri dari dua "piringan".

Bahan bakarnya masih menggunakan kayu. Sehingga hasil akhir jepa begitu khas. Penuh aroma asap dalam setiap gigitannya.

Ampas singkong kemudian diletakan di atas salah satu piringan. Kemudian, piringan satu lagi ditumpuk di atasnya. Jadi singkong seperti dijepit agar matang bagian atas dan bawah.

Tenang saja, jika merasa kesulitan, Anda cukup membantu dengan mengisi piringan dengan singkong. Lalu setelah matang, Anda bisa membantu mengambilnya dari wajan.

Makanan Raja-raja ala Mandar


Makanan Raja-raja ala Mandar
Oleh: Anung Setyahadi
Dimuat di Kompas tanggal 3 Maret 2016ragamsulawesibarat.blogspot.co.id

*********************************************

Berkunjung ke perkampungan nelayan Mandar di Sulawesi Barat tidaklah berkesan jika belum mencicipi gulai telur ikan terbang dan masakan serba ikan.

Layaknya makanan raja-raja, beberapa makanan lezat khas Mandar hanya disajikan saat acara ritual atau hajatan besar seperti pernikahan.

Saran jitu untuk menikmati masakan itu adalah datang ke daerah Mandar saat ada pesta pernikahan, sandeq race, atau pesta nelayan (mapandeqsasi).

Saya beruntung dapat menikmati hidangan Mandar langsung dari tangan pertama. Ketika meliput acara sandeq race pada 22-24 Agustus lalu, saya menginap di rumah Mohammad Ge yang asal Mandar, di Ujung Lero.

Saya dijamu masakan gulai ikan terbang yang terkenal itu. Bila Anda tidak punya kenalan warga setempat, masakan sejenis bisa didapat di beberapa hotel di Makassar, Sulawesi Selatan.
Daerah Mandar dengan perkampungan nelayannya berada di sepanjang Selat Makassar, dari Kabupaten Mamuju, Majene, hingga Polewali Mandar. Ada beberapa kampung Mandar di tengah kampung Bugis, seperti Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Ciri khas masakan Mandar adalah rasa yang pedas, gurih, sedikit asam, dan minim kuah. Variasi makanan sangat beragam mulai dari yang paling istimewa, yaitu gulai telur ikan terbang, pupu (semacam perkedel segi tiga dari ikan cakalang), sarundeng ikan, songko ubi, sampai buras.
Setiap keluarga nelayan Mandar pasti menyimpan telur ikan terbang kering. Jumlahnya tidak banyak karena hanya untuk jamuan khusus bagi tamu-tamu istimewa. Maklum, harga telur ikan terbang berkisar antara Rp 180.000 sampai Rp 300.000 per kilogram kering. Nelayan memilih menjual telur ikan daripada menyantap sendiri.

Sensasi Rasa

Aroma gurih gulai telur ikan yang masih mengepulkan asap sangat menggoda selera. Mencicipi kuahnya yang berwarna kekuningan, selera makan semakin meningkat.

Lidah tersengat sensasi gurih, pedas, bercampur sedikit asam. Bumbu cabai dan merica memberi sensasi pedas di mulut serta hangat yang menjalar perlahan di perut. Rasa asam mengalirkan air liur seperti efek buah zaitun untuk membangkitkan selera makan.

Telur ikan dalam kuah gulai masih berbentuk lembaran-lembaran sebesar bungkus rokok. Lembaran itu terdiri atas butir-butir telur yang melekat pada serat alami seperti benang halus berwarna putih. Saat dikunyah, ada lembut telur ikan bercampur renyah serat pengikat telur.
"Kaviar ini enak sekali. Ini makanan terbaik yang saya temui di sini," ujar seorang kawan dari India yang ikut dalam Sandeq Race 2007. Teman tadi menggunakan nama telur ikan, biasanya ikan terbang, yang diasin dan umumnya mengacu pada telur ikan dari Laut Kaspia yang diekspor ke seluruh dunia.

Gulai telur ikan Mandar sajian keluarga Mohammad Ge sangat nikmat karena masih segar, baru sebulan dikeringkan. Untuk memperoleh telur yang segar, datanglah antara bulan Mei hingga September saat musim berburu telur ikan terbang (motangnga). Telur ikan itu kami nikmati di Ujung Lero.

Gulai telur ikan terbang biasa disajikan bersama pupu, songko ubi, buras, dan ikan bumbu cabai. Pupu termasuk masakan khas Mandar. Makanan sejenis perkedel ini dibuat dari ikan cakalang dikukus kemudian dibuang tulangnya dan ditumbuk halus. Daging ditumbuk selama 30 menit bersama serai, lengkuas, garam, bawang merah, merica, cabai merah, dan jeruk nipis.

Sebelum digoreng, daging dicampur dengan adonan tepung beras. Adonan dibentuk segi tiga sama sisi baru digoreng di atas api kecil supaya matang merata hingga ke dalam. Bila kulit luar berwarna coklat, pupu sudah matang. Jika kulit luar masih putih, daging bagian dalam belum matang.

Pupu yang masih hangat menebar aroma harum rempah-rempah dan gurih ikan cakalang. Menggigit pupu tidak perlu usaha keras karena perkedel ini empuk. Sensasinya lembut di dinding mulut. Kulit pupu yang kering terasa renyah di antara kelembutan daging cakalang.
Di lidah, rasa pedasnya tidak terlalu kuat, tetapi menjalar lembut. Gurih daging ikan bertambah lengkap dengan rempah-rempah yang ditumbuk halus.

Pupu biasa disantap dengan buras, ketupat, atau songko ubi. Ketupat di tangan kanan, pupu di tangan kiri, digigit bergantian. Saat pagi hari, pupu menjadi sarapan istimewa ditemani teh atau kopi panas.
Bahari

Aneka makanan khas nelayan Mandar itu lahir dari budaya bahari. Rasa pedas cabai dan hangat merica untuk mengusir masuk angin saat melaut. Masakan juga cenderung kering supaya awet dibawa melaut berhari-hari.

Kekayaan kuliner nelayan Mandar itu memang belum terlalu dikenal. Kalau tertarik mencicipinya, silakan berkunjung ke perkampungan nelayan Mandar di Sulawesi Barat.