Sabtu, 06 Agustus 2011 04:54

Setiap pakaian adat suku Mandar tidak lepas dari lipa saqbe.
Disamping adalah foto contoh pakaian adat suku Mandar dengan menggunakan
sarung khas mandar yaitu
lipa saqbe (nama lipa saqbe yang digunakan adalah
Sure' Padzadza).
Lipa Saqbe Mandar (Sarung Sutra Mandar) sepintas memiliki persamaan dengan kain sutra daerah lain, tapi di setiap jenis dan nama
Lipa Saqbe Mandar memiliki ciri khas khusus yakni dari segi corak (
sure' ataupun
bunga) dan cara pembuatannya, yang membuatnya terkenal ke daerah sekitarnya (bugis dan makassar).
Posisi coraknya itu tidak sembarangan, karena penciptaan motif (
sure' ataupun
bunga) punya peruntukan masing-masing berdasarkan standar ekonomi, sosial budaya, agama, dan juga strata sosial seseorang.
Saat ini terdapat 2 jenis Lipa Sa'be bila ditinjau dari motifnya yaitu Sure dan Bunga. Perbedaannya,
Sure'
yaitu lipa sa'be yang merupakan motif asli dari sarung sutra mandar,
ciri-cirinya tidak memiliki hiasan/bunga yang membuatnya mencolok.
Sedangkan
Bunga yaitu lipa sa'be yang memiliki motif
dan hiasan berupa bunga ataupun lainnya, yang merupakan turunan dari
sure agar lipa sa'be tampak lebih cantik.
Lipa Sa'be bermotif Sure' :
Lipa Sa'be bermotif Bunga ;
Contoh-contoh Lipa Sa'be Mandar :
Berikut akan dibahas tentang cara pembuatan Lipaq Saqbe Mandar, mulai
dari pemilihan benang, bahan dasar pewarnaan (tradisional dan kimiawi),
proses mewarnai (
maccingga),
manggalenrong,
mappamaling,
sumau',
mappatama, dan
manette.
1. Pemilihan Benang

Benang (
bannang)
sutra merupakan bahan dasar yang dipakai. Sutra memiliki kilau yang tak
tertandingi oleh serat alam lainnya, serat ini berasal dari air liur
ulat sutera. Ulat sutera ini akan berubah bentuk menjadi kepompong,
dimana kepompong ulat sutera inilah yang merupakan lilitan air liur akan
mengeras dan bila diurai akan menjadi serat panjang yang halus, di
Mandar dahulu dikenal maqunnus
dan mattiqor.
Ma'unnus adalah penarikan benang dari kepompong
dengan cara sangat manual. Dari sekian benang yang ditarik lalu
dihaluskan dan digulung dalam bentuk pintalan-pintalan benang, proses
ini dinamakan
Matti'or yaitu proses pemintalan agar siap digunakan/ditenun.
Ma'unnus dan
matti'or di Mandar
sudah tidak ditemukan lagi. Hal ini disebabkan, selain karena jarang
ditemukan kepompong ulat sutra, juga karena para penenung langsung
membeli benang sutra yang dijual di pasaran.
Benang sutra memiliki warna dasar putih, jadi untuk menghasilkan kain
sutra yang bercorak diperlukan proses pewarnaan sesuai corak yang akan
dibuat.
2. Proses Pewarnaan (Maccingga)Proses pewarnaan ini ada dua cara, yaitu dengan cara tradisonal (memakai pewarna alam), dan dengan cara pewarna kimia.
- Cara TradisionalYaitu pewarnaan yang menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar. Pewarnaan dengan cara tradisional ini sudah jarang dijumpai di Mandar, karena prosesnya juga
agak ribet dan mengulur waktu.
Berikut ada 4 contoh pewarna dengan bahan dasar dari alam sekitar :
Daun Nila,
akan menghasilkan warna biru dan hitam. Adapun proses pembuatannya,
yaitu daun nila yang sudah dikumpulkan dijemur sampai layu, kemudian
dimasukkan ke dalam tempayang berisi air dan diendapkan selama 2 hari.
Selanjutnya, daun nila dicampur dengan kapur dan dimasak, setelah
mengeluarkan busa air dari daun nila disaring dan didinginkan. Air yang
sudah disaring siapkan digunakan sebagai pewarna benang.
Ka'lanjo
(bakal kelapa yang besarnya sama dengan kepalan tangan anak-anak).
Ka'lanjo ini akan menghasilkan warna coklat muda. Proses pembuatannya,
setelah kalanjo dikumpul sekitar 15 biji, ka'lanjo tersebut
dipotong-potong lalu ditumbuk sampai agak halus, kemudian direndam
dengan air sekitar 5 liter dan didiamkan selama 1 hari 1 malam. Setelah
itu, air yang sudah disaring dari rendaman ka'lanjo ini siapkan
digunakan sebagai pewarna benang.
Bakko
(Kulit bakau), akan menghasilkan warna merah muda, dan untuk merah tua
sampai coklat, bakko direndam atau dimasak lebih lama. Cara
menyiapkannya yaitu terlebih dahulu mengupas kulit bakau dari pohonnya
sampai sesuai kebutuhan kemudian dimasak dalam panci, setelah
menghasilkan warna sesuai dengan keinginan, panci diangkat dan
didinginkan agar mudah disaring dan diambil airnya untuk digunakan
sebagai pewarna benang.
Gamalo, adalah sejenis pohon kayu, dimana cara proses persiapannya sama dengan bakko. Warna yang dihasilkan adalah coklat tua.
- Cara Pewarnaan dengan bahan kimiaCara ini paling banyak dan umum dilakukan oleh penenun Mandar saat ini,
cingga (pewarna) dari bahan kimiapun banyak dijumpai di pasaran.
PROSES MACCINGGA
- benang sutra di masak menggunakan air pewarna yang akan dipakai dalam keadaan mendidih.
- aduk sampai benang bersatu dengan warna.
- setelah itu biarkan benang sutra dan air pewarna mendingin.
- setelah dingin, benang sutra diperah dan dibilas kemudian dijemur
sampai kering, yang perlu diperhatikan pada saat menjemur adalah benang
selalu ditarik-tarik atau disiangi agar benang dalam keadaan kembur atau
terpisah-pisah antara lembaran yang satu dengan lainnya.


Selain cingga yang sudah banyak dijumpai dipasaran saat ini, juga
sudah ada benang sutra yang telah berwarna saat dibeli, ini sangat
membantu pekerjaan penenun sutra.
3. Manggalenrong

Proses
selanjutnya, adalah manggalenrong yaitu benang yang sudah diwarnai
(dicingga') dililitkan pada sebuah potongan bambu atau sebuah kaleng
yang disebut
galenrong, dengan menggunakan alat bernama
roeng dan
panggalenrongan.
Benang yang digalenrong tersebut untuk persiapan proses selanjutnya
yaitu proses pembuatan benang lungsi. Satu galenrong untuk satu warna
benang, jadi banyaknya benang yang digalenrong sesuai dengan kebutuhan
untuk benang lungsi.
4. Mappamaling

Selain manggalenrong, seorang penenun juga mempersiapkan benang yang dipakai untuk benang pakan.
Proses ini dinamakan
mappamaling yang berarti memindahkan. Benang untuk pakan ini dililitkan di ujung
pamalingan, yang terbuat dari bambu sebesar lidi.
Proses ini menggunakan alat yang bernama
roeng dan
unusan.
5. Sumau'

Proses
sumau bertujuan untuk mengatur benang lungsi, dimana membutukan tempat yang agak luas (panjang sekitar 6 meter) untuk membuat sautan.
Sautan biasanya dibuat di kolom rumah, yang sangat
memungkinkan karena rumah Mandar adalah rumah panggung. Panggung sautan
dibuat di antara tiang-tiang kolom rumah yang terbuat dari gamo (pelepah
daun rumbia).
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id

Alat-alat yang digunakan pada proses ini, yaitu
suru', aweran, ale', susu'ale, pallumu-lumu, pattanra', galenrong.
Lebar lungsi yang dibuat biasanya 50 cm, 60 cm atau 75 cm tergantung
penenun ukuran mana yang akan dibuat, jadi ukuran tinggi sarung mandar
yang sudah selesai setelah disambung menjadi 100 cm, 120 cm atau 150 cm.
Pada waktu menyusun benang lungsi ini ke dalam sautan, terlebih
dahulu perlu diketahui susunan pengaturan benang, sebab dalam menyusun
benang lungsi ini punya cara khusus. Pelaksanaan sumau kira-kira seperti
berikut :
- mempersiapkan galenrong yang akan dipakai (satu galenrong untuk satu warna benang).
- mengambil ujung benang dari galenrong ditarik ke atas sautan masuk ke lubang suru',
kemudian ke lubang ale' kemudian ke lubang suru' lagi, kemudian diantar
ke ujung sautan diputar satu kali, kemudian di bawah lagi satu kali.
- dari ujung benang selalu diantar secara bolak-balik terus menerus sampai tersusun kombinasi warna-warna yang diinginkan.
Lama
sumau' tergantung kepada penenun, ada yang 1
hari saja tapi rata-rata penenun 2 hari baru selesai. Setelah selesai,
benang lungsi yang selesai tersusun dilepas dari sautan, dengan cara
menarik
aweran-nya saja.
6. Mappatama
Mappatama, dalam bahasa Mandar berarti memasukkan, dalam hal ini adalah benang lungsi yang sudah dilepas dari sautan dimasukkan ke
tandayang untuk ditenung.
Prosesnya yaitu setelah dilepas dari
sautan terlebih dahulu benang lungsi dirapikan, diperiksa dan diteliti bila ada yang putus segera disambung, kemudian dipasangi
patakko.
Patakko tersebut dipasang papan
pamalu' yang mana pada pamalu' tersebut terdapat baut penahan patakko. Selanjutnya benang lungsi dililitkan/digulungkan pada papan (
pamalu'). Papan
pamalu' tersebutlah yang dimasukkan ke pattandayangan. Langkah terakhir adalah memasukkan ujung pakan yang lain
patakko yang akan dimasukkan ke dalam
passa dengan ketentuan
biring keccu (pinggir kecil benang lungsi) sebelah kanan dan
pandapuan sebelah kiri.


7. Manette
Manette berarti menenun. Proses menenun kain khas tradisional Mandar ini memakai beberapa peralatan yang disebut
parewa tandayang (peralatan tenun).
Parewa tandayang merupakan
warisan leluhur masyarakat mandar, sehingga diakui bahwa merupakan
hasil kreasi nenek moyang masyarakat mandar yang diwariskan secara turun
temurun. Kemampuan menciptakan
parewa tandayang juga dilakukan secara turun temurun tanpa ditransfer secara formal oleh pendahulunya.
Adapun peralatan yang dimaksud dalam
parewa tandayang adalah :
a. patakko
b. palapa pattali-tali
c. pamalu'
d. petandayangan
e. palapa
f. pallumu-lumu
g. susu' ale'
h. ale'
i. pambitting ale'
j. aweran
k. passamba'
l. panette' (balida)
m. suru'
n. sa'ar
o. passa
p. palapa pappamase'
q. lobang tempat mengaitkan pappamase'
r. tautan
s. gulang pondo'
t. passollorang
u. pappamalingan
v. pa'ang
w. tora'
x. panne
y. sissir
z. passue'
PUSTAKA :Idham. 2009.
Lipa Sa'be Mandar. Surakarta:Zada Haniva.