Selasa, 15 Maret 2016

Apakah KONDOSAPATA itu...?

Tampil : 5058 kali.

Apakah KONDOSAPATA itu...?

ARTIKEL INI DIKOPI DARI BLOG ASLINYA http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id
DIPERSEMBAHKAN KEMBALI UNTUK PENGUNJUNG WEBSITE PUTRA MANDAR SULAWESI BARAT
AGAR KEPADA GENERASI-GENERASI MUDA MANDAR DAPAT MEMAHAMI KESATUAN SEJARAH BUDAYA MANDAR SULAWESI BARAT KITA SECARA KESELURUHAN YANG TIDAK LEPAS DARI
PITU BA'BANA BINANGA (PBB), PITU ULUNNA SALU (PUS), DAN KARUA BABANA MINANGA (KBM).



SEJARAH Lahirnya KONDOSAPATA - Bagian 2: APAKAH KONDOSAPATA ITU??

http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id KONDOSAPATA dalam arti luas, adalah wilayah tanah adat yg didiami sekelompok orang dan memiliki prinsip-prinsip hidup yg sangat baik, beradab, punya falsfah yg sangat kokoh, yg berfungsi untuk mengikat masyarakat sosial yg ada di dalamnya, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi agar tetap hidup dalam kekeluargaan, rukun dan damai. Prinsif dan falsafah hidup yg dipakai, diinplementasikan dalam nilai-nilai kehidupan sosial, adat istiadat, budaya dari generasi ke generasi berikutnya.

Arti Harfiah : Sebuah sawah yg luas (KONDO) hanya satu pematang (SAPATA), dengan air yg merata di semua teras sawah tersebut (UAI SAPALELEAN)

Arti Filosofinya, KONDOSAPATA UAI SAPALELEAN, berarti hanya satu wilayah (Sapata), tidak bisa dipisahkan, dan masyarakatnya hidup adil dan mempunyai hak yg sama (Uai Sapalelean).

Wilayah KONDOSAPATA, mencakup daerah Pesisir, Mamuju (Pamboang) Ulu Manda', sampai ke daerah Binuang. Sementara daerah pedalaman (pegunungan) mencakup Tabulahan (Rantebulahan), Bambang, Mambi, Aralle, Matangganga, Malabo (Tanduk Kalua') Balla, Mamasa, Sesena Padang, sampai ke wilayah Tabang. MUlai dari Suppiran, Sepang, Messawa, Tabone Sumarorong, Pana' sampai ke Nosu. Itulah wilayah KONDOSAPATA dengan julukan PITU ULUNNA SALU, KARUA BA'BANA MINANGA.

Pitu Ulunna Salu, Karua Ba'bana Minanga adalah bahasa Kondosapata asli (bahasa ibu), artinya Tujuh Hulu dan Delapan Muara yg ada di wilayah Kondosapata. Ketujuh hulu dan delapan muara ini didiami oleh keturunan PONGKA PADANG, yg mempunyai tujuh anak dan 11 cucu.

Ke tujuh anak dan 11 cucu inilah yg membagi wilayah Kondosapata mulai dari pesisir sampai ke pedalaman/pegunungan. Konon kabarnya tanah adat KONDOSAPATA sdh berusia ratusan tahun. Tanah ini subur dan makmur yg saya temukan dalam bahasa Orang tua sbb : KONDOSAPATA UAI SAPALELEAN, TONDOK PONNO RANNU, TONDOK DIPILEI LANGSA' TONNO BUA MATASAK. TONDOK MALOMO' MASAPI, MA'KAMPIPI'BAI TORAYA. TAE' DENGAN LASUSIANNA, SALUNNA TIAMPALLEN MA'A, TIETTEN DOTILANGI, TANG SORE-SORE UAINNA, TANGKATTU KALIMBUANGNA, TANG MATTI TIMBUNNA. Artinya, kurang lebih seperti ini : KONDOSPATA UAI SAPALELEAN, adalah tanah yg penuh harapan, negeri pilihan terbaik, banjir buah-buahan, wilayah yg subur seperti lemak belut sungai, lemak babi Toraja. Negeri yg tidak ada bandingannya, sungainya terbentang jauh, bak ukiran awan di langit, airnya tak akan surut, mata airnya tak terputus dan sumurnya tak akan kering.

Semboyan, dalam bahasa Mamasa (Singgi') yg terus dilestarikan itu, kita bisa menterjemahkan betapa suburnya wilayah ini, merupakan pemberian Tuhan sehingga bumi Kondosapata menjadi wilayah yg penuh harapan TONDOK PONNO RANNU).

Sementara KONDOSAPATA UAI SAPALELEAN SENDIRI memiliki arti, sebuah sawah yg luas yg memiliki hanya satu pematang tapi airnya merata. Dalam arti sesungguhnya, walauapun wilayah ini luas, tetapi masyarakatnya mendapat hak dan keadilan yg sama.

Prinsip atau falsafah hidup yg melekat dalam nama wilayah ini sangat memperjelas JATI DIRI dan INTEGRITAS warga KONDOSAPATA.

Prinsip dan kebiasaan hidup warga di Bumi Kondospata betul-betul diimplementasikan dalam kehidupan, bahasa, adat istiadat, upacara, agama dan kehidupan sosial umum.

PRINSIP SALING MENGHARGAI dapat ditemukan dalam simbol-simbol seperti : SITAYUK, SIKAMASEI, SIRANDE MAYA-MAYA. Artinya saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi dan saling mengangkat satu dengan yg lain.

KONDOSAPATA dalam perubahan dari waktu ke waktu, dapat dibagi tiga. Yaitu : masa pemerintahan adat, masa pemerintahan Belanda, dan Masa Pemerintahan Repulik Indonesia.

Selama masa pemerintahan Belanda, sempat terjadi beberapa kali perubahan nama. Sebelum egresi militer Belanda (Compeni) memasuki wilayah Indonesia, wilayah ini masih bernama PITU ULUNNA SALU KARUA BA'BANA MINANGA. Namun pada awal abad dua puluhan, saat agresi Belanda (COMPENI) masuk wilayah Indonesia, wilayah KONDOSAPATA pun dikuasai pemerintah Belanda. Menurut sejarah yang dicatat Drs Adrianus Mandadung dalam bukunya. "Keunikan Budaya Pitu Ulunna Salu, Kondosapata Mamasa", Kolonial Belanda masuk wilayah Kondosapata pertama kalinya pada tahun 1907. Nah berdasarkan Staatsbland, N0 : 43 Tahun 1917, daerah Pitu Ulunna Salu dipecah menjadi dua wilayah adminstrasi, yaitu ONDERAFDELING PITU ULUNNA SALU dengan ibu kotanya di Mambi dan ONDERAFDELING BOVEN BINUANG dengan ibu kotanya di MAMASA. (Sebelumnya ada usulan ibu kotanya di Malabo). Kedua wilayah Administrasi tersebut di bawah naungan pemerintahan AFDELING MANDAR yg ibu kotanya ada di MAJENE.

Dengan pembagian wilayah ini, Belanda melihat tdk membawa dampak kemajuan. Maka berdasarkan Staatsbland No.467 Tahun 1924, Kedua wilayah ondersfdeling ini dilebur kembali menjadi satu dengan nama : 'ONDERAFDELING BOVEN BINUANG EN PITU ULUNNA SALU dengan ibu kota ada di MAMASA.

Sebagai catatan, bahwa wilayah kondosapata juga pernah diacak-acak oleh pemerintah Belanda menjadi tiga wilayah, yaitu :
1. HULF BESTUUR AMTENAR MAMBI, meliputi, enam distrik Sbb : Tabulahan, Aralle, Mambie, Bambang, Rantebulahan, Matangnga dengan ibu kotanya di MAMBI.
2. HULF BESTUUR AMTENAR MAMASA, meliputi tujuh Distrik (Kecamatan), yaitu : Messawa, Tabone, Mala'bo', Osango, Mamasa (Rambusaratu'), Tawalian. Orobua, dengan ibu kotanya di MAMASA.
3. HULF BESTUUR AMTENAR PANA', meliputi empat Distrik (kecamatan), yaitu : Nosu, Pana', Ulu Salu, Tabang dengan ibu kotanya di PANA'.



Rangkaian tulisan "Sejarah Lahirnya Kondosapata" adalah karya Octovianus Danunan, seorang jurnalis asal Mamasa yang kini menetap di Timika, Papua. Beliau bergabung dengan Grup Jawa Pos, ditugaskan di kota Timika memimpin salah satu perusahaan penerbitan Grup Jawa Pos bernama PT Timika Media Utama, jabatan Direktur, sekaligus Pemimpin Redaksi Radar Timika, salah satu terbitan PT Timika Media Utama. "Setelah pensiuan sebagai jurnalis, saya ingin menjadi penulis buku," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar