Jumat, 18 Maret 2016

Mantra Pemikat dari Tanah Mandar

Mantra Pemikat dari Tanah Mandar

ilustrasi

DI satu desa di pedalaman tanah Mandar, Sulawesi Barat, seorang bapak tua mengajariku mantra-mantra pemikat perempuan. Pada usia 20-an tahun, aku lansung merinding. Rasanya tak sabar untuk meninggalkan kampung itu demi langsung mencoba mantra pemikat itu. Berhasilkah?

***

HARI itu, di akhir dasawarsa 1990-an. Aku dan sahabat Muhammad Toha bekerja di satu lembaga penelitian di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar. Kami mendapat tugas untuk melakukan riset lapangan selama dua minggu di satu desa terpencil di Kabupaten Pollewali Mamasa, Sulawesi Selatan (kini menjadi bagian dari Sulawesi Barat).

Penelitian itu mengenai pendidikan di daerah-daerah terpencil. Kami hendak mengamati sejauh mana akses warga daerah terpencil untuk mendapatkan pendidikan. Kami mengamati keterbatasan infrastruktur, serta bagaimana dukungan masyarakat terhadap sekolah-sekolah.

Kami memang sengaja memilih daerah yang paling terpencil. Aku masih ingat persis. Desa yang kami datangi terletak di Kecamatan Tutallu. Dari jalan poros Makasaar ke mamuju, kami singgah ke Tinambung. Setelah itu mobil yang kami tumpangi akan belok ke kanan dan melalui tanjakan yang cukup jauh. Pada masa itu, infrastruktur jalan sangatlah buruk. Setelah tiba di Tutallu, kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki selama beberapa jam. Semua barang bawaan kami sampirkan pada seekor kuda yang kami sewa.

Desa yang menjadi lokasi penelitian itu sangatlah terpencil. Tak ada listrik. Tak ada fasilitas publik. Penduduknya tinggal terpisah-pisah, namun tak begitu jauh dari sungai. Nah, sungai itu menjadi pusat aktivitas warga. Di situlah warga mandi, mencuci pakaian, sekaligus fasilitas untuk buang air besar. Mulanya, aku ragu-ragu untuk mandi di sungai itu. Tapi setelah melihat beberapa gadis desa ikut mandi, aku pun membiasakan diri. Minimal bisa melirik ke kiri dan ke kanan. Hihihi.

Aku dan Toha menginap di rumah seorang guru sekolah dasar. Bapak itu telah memiliki dua anak. Di rumahnya itu, tinggal pula adik iparnya yang cantik jelita. Sepintas, adik iparnya itu mirip artis ibukota. Saat pertama datang, gadis itu menghidangkan minuman lalu menyilahkanku untuk minum. Ia tertunduk saat itu, namun ketika mengangkat wajahnya, sekilas matanya melirik ke arahku. Darahku langsung berdesir.

Bapak pemilik rumah sempat memberikan beberapa masukan. Ia meminta kami untuk berhati-hati ketika dihidangkan minuman oleh warga. Katanya warga di kampung itu masih banyak yang mengamalkan ilmu sihir. Meskipun tak begitu percaya dengan sihir, aku mengikuti sarannya.

Keesokan harinya, aku mulai menelusuri desa itu demi menuju sekolah terdekat. Selama beberapa hari, observasi dan wawancara di sekolah itu sukses dilaksanakan. Kami lalu bergerak untuk mengumpulkan data ke beberapa warga. Hingga akhirnya, kami mewawancarai seorang bapak yang nampak terpelajar di kampung itu.

Yang menarik, bapak itu menjelaskan tentang banyaknya mantra-mantra dan kesaktian di kampung itu. Ia mengambil kertas-kertas lusuh di kamarnya lalu memperlihatkan sebuah gabar yang menunjuk ke delapan penjuru mata angin. “Ini namanya kutika. Bagi orang mandar, ini berguna untuk melihat hari-hari baik,” katanya.

Ia menunjuk hari-hari baik untuk menanam, serta hari baik untuk melaut. Yang menarik, ada pula hari baik untuk berkelahi dengan seseorang. Katanya, saat pergi menantang orang lain pada hari itu, maka seseorang akan selamat dan tak mendapat celaka.

Kutika dikenal dalam berbagai budaya. Tak hanya Mandar, orang Bugis ataupun Buton juga mengenal konsep kutika. Biasanya kutika selalu dikaitkan dengan perhitungan konsep tentang hari-hari baik. Barangkali, ada semacam pengulangan atas satu kebaikan yang terjadi di masa silam. Pada masa kini, kutika menjadi kompas yang menentukan kapan satu kelompok masyarakat memulai suatu pekerjaan.

Yang jauh lebih menarik adalah ketika bapak itu membuka kertas-kertas lusuh yang katanya berisikan matra-mantra. Pada satu bagian, ia bercerita tentang mantra pemikat perempuan. Jiwa mudaku bergejolak. Aku sangat tertarik. Kubayangkan gadis-gadis manis di kampus. Kubayangkan pula sejumlah wanita yang pernah menolak cintaku. Kali ini, perempuan itu akan bertekuk lutut dan berharap cintaku. Aku tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi kelak.

Yang mengherankan, tanpa kuminta, bapak itu bersedia mengajarkan mantra itu secara gratis. Menurutnya, mantra itu sangat efektif. Kita harus meletakkan jari telunjuk di bawah lidah, sembari mengucap mantra. “Kalau sudah baca mantranya, usahakan untuk sentuh gadis itu. Pastilah dia langsung jatuh cinta,” kata bapak itu. Aku langsung berdebar-debar.

Dua hari setelah pertemuan itu, aku meninggalkan lokasi penelitian. Mantra itu telah kuhafal luar kepala. Sepanjang perjalanan ke Makassar, aku memikirkan kepada siapa mantra itu akan kurapal. Kubayangkan si A yang bahenol. Tiba-tiba saja kuurungkan niatku karena kupikir si A tak begitu menarik. Kubayangkan lagi Si B yang lebih seksi. Tak puas, kukhayalkan lagi Si C. Ah, aku jadi bingung hendak ‘menyihir’ siapa.

Setibanya di Makassar, aku tak bisa tidur selama beberapa malam. Gara-gara mantra itu aku tak kunjung bisa tidur. Aku tak tahu apakah akan menggunakan mantra ini ataukah tidak. Namun ada rasa penasaran yang terus menggelayut di hati ini. Apakah mantra ini bisa bekerja? Apakah hari-hariku akan seperti Rano karno ataupun Rhoma Irama yang senantiasa dikelilingi gadis-gadis manis dalam semua filmnya?

Hingga suatu hari, aku menyaksikan kawan perempuan melintas. Tiba-tiba saja ada gejolak kuat untuk menggunakan mantra itu. Jantungku berdegup lebih kencang. Kubayangkan matanya akan dipenuhi simbol cinta, sebagaimana kusaksikan dalam film kartun. Saat ia mendekat, aku segera meletakkan telunjuk ke bawah lidah. Kubaca mantranya, lalu kucolek dirinya.

Kembali, jantungku berdegup lebih kencang saat menanti reaksinya. Sekian detik, ia tiba-tiba menoleh. Aku serasa menyaksikan adegan dalam film Korea yang tiba-tiba saja menjadi slow motion.  Aku seolah tidak menginjak tanah.
http://ragamsulawesibarat.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar